Jumat, 27 Mei 2011

Ibu Ideologis Pejuang Khilafah

Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia.

Puluhan Muslimah berjalan kaki di Tunisia sembari memekikkan 'Allahu Akbar' dengan lantang. Para perempuan berjilbab ini menuntut ditegakkannya syariah dan Khilafah di negaranya yang baru saja terjadi revolusi. Gerakan rakyat yang sukses menumbangkan rezim sekuler-kapitalis, yang menginspirasi makin bergulirnya seruan Khilafah.

Ya, kegagalan sistem kapitalisme dalam menyejahterakan masyarakat dunia, baik Muslim maupun non Muslim semakin nyata. Termasuk kegagalan kapitalisme dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Tuntutan penerapan syariah dan khilafah pun bukan lagi sekadar wacana. Ibarat bola salju, makin besar dan lajunya makin kencang. Tak hanya di Tunisia, tuntutan Khilafah juga menggema di seluruh pelosok dunia. Hanya, media massa tidak menyiarkannya sehingga seolah terdengar samar-samar.
Nah, kaum perempuan turut punya andil dalam menyuarakan wajibnya penerapan syariah dan Khilafah. Apa perannya?


Peran Kodrati
Peran Muslimah dalam memperjuangkan syariah dan Khilafah terkait erat dengan kodratnya sebagai perempuan, yakni ibu pelahir generasi penerus. Kualitas generasi penerus ada di tangan para ibu ini. Sebab ibu adalah orang pertama yang dikenal anak. Ibu juga subyek utama sejak masa awal kehamilan, dilahirkan, menyusui, dan selama perkembangan dari tahap satu ke tahap lainnya dalam kehidupan anak.

Ibu merupakan pemeran penting bagi tumbuh kembangnya buah hati. Ibu adalah penentu arah perkembangan dan kemajuan anak-anaknya kelak.
Karena itu, sebagai pejuang syariah dan Khilafah, seorang Muslimah bukan sekadar menjadi ibu biologis bagi anaknya tapi wajib menjadi ibu ideologis. Yakni, ibu yang mampu melahirkan generasi berkualitas pembela Islam.


Ibu ideologis adalah ibu yang paham Islam secara kaffah, baik akidah maupun syariah. Dengan demikian, kelak ia mampu mendidik anak-anaknya dengan ideologi Islam kaffah pula. Ibu demikian mampu merumuskan desain pembinaan dan pendidikan yang terencana, terstruktur, dan terbaik bagi anak-anaknya, bahkan sejak merencanakan kehamilan, hamil hingga anaknya lahir.

Ibu ideologis ini akan terus belajar, mengembangkan diri dan memperluas wawasan agar mampu mewujudkan anak-anak yang mampu eksis dalam persaingan global. Ia mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya dan melahirkan anak-anak yang membanggakan. Yakni, anak yang cerdas, dengan pemahaman agama yang mendalam, memiliki karakter kepemimpinan serta kepribadian berkualitas.

Ibu seperti ini mampu memahami bahwa tantangan yang akan dihadapi anak-anak jauh lebih besar dari apa yang mereka hadapi saat ini, sehingga senantiasa berupaya keras menyiapkan bekal berupa ilmu pengetahuan, kekuatan mental ataupun kesadaran politis bagi anak-anaknya. Dengan begitu akan lahir generasi penerus yang membentuk masyarakat terbaik.

Teladan
Banyak keteladanan yang menunjukkan keunggulan peran Muslimah yang tak tertandingi dalam mewujudkan masyarakat terbaik. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang sukses karena peran seorang wanita dan ibu di belakangnya. Namanya tidak tercatat dalam sejarah, namun akan selalu menyertai kesuksesan dan kegemilangan anak hasil didikannya. Dan itu cukup menjadi bukti betapa pentingnya peran ibu. Dari rahim kaum ibulah, lahirnya bangsa bermartabat, mandiri dengan pemimpin berkualitas emas.

Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas ini telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia. Ibu Imam Syafi'i misalnya, mewakili perjuangan ibu dari ulama sepanjang zaman. Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi'i lahir. Ia membesarkan Syafi'i sendirian, memotivasinya untuk belajar. Usia 7 tahun Syafi'i sudah hafal Alquran.

Guru-guru ia datangkan untuk mengajar Syafi'i, meski untuk itu ia harus bekerja keras demi biaya belajar anaknya. Hasilnya, Imam Syafi'i menjadi mujtahid yang hasil ijtihadnya dijadikan referensi hingga kini.

Begitupula halnya dengan ibu Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel. Sejak Al Fatih kecil, ibunya selalu menceritakan janji Nabi SAW dalam haditsnya tentang keniscayaan penaklukan Konstantinopel. Berbekal hadits itulah sang ibu menggambarkan betapa mulianya pasukan dan pemimpin pasukan yang memimpin penaklukan. Usahanya mendidik dan mengarahkan anaknya menjadi pemimpin pasukan yang dipuji Allah SWT membuahkan hasil yang hingga kini dikenang dalam sejarah emas umat Islam.

Lalu Asma' binti Abu Bakar, berhasil mendidik Abdullah bin Zubair sebagai ahli ibadah sekaligus individu yang berani menghadapi penguasa zalim. Ibunda Al-Khansa', mampu mendorong keempat anaknya untuk syahid. Ada juga Ummu Tsulaim yang mampu melayani suami dengan baik meskipun hendak mengabarkan kematian putranya.

Apakah teladan seperti itu bisa dilakukan perempuan masa kini? Sangat bisa. Seperti fenomena anak ajaib di Iran, Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba'i yang memperoleh titel doktor pada usia tujuh tahun dari universitas di Inggris.

Ia sudah hafal dan paham Alquran pada usia lima tahun, berkat didikan ayah ibunya. Keduanya hafidz dan hafidzah Alquran. Dalam percakapan sehari-hari, mereka biasa menggunakan ayat-ayat Alquran, sehingga anaknya pun mampu melakukan hal yang sama.

Subahanallah! Alangkah cerahnya masa depan dunia jika anak-anak terdidik oleh ibu-ibu mulia ini; ibu yang shalihah, cerdas dan sadar syariah. Melalui tangan ibu kelak akan lahir khalifah-khalifah yang senantiasa istiqamah menjalankan syariat Islam, menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia. Sebuah peran politis yang tak tergantikan oleh sosok manapun.

Optimalisasi
Memperjuangkan tegaknya Khilafah di tengah-tengah kehidupan sekuler, memang bukan perkara gampang. Perlu kesungguhan, keseriusan dan kesabaran untuk mewujudkannya. Karena itu, kewajiban kita sebagai Muslimah adalah sekuat tenaga mencurahkan segala kemampuan dalam rangka mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para shahabat, melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah mereka lakukan.

Jika kelak sampai pada tujuan secara sempurna, memang itulah yang kita harapkan. Namun sekiranya tidak sampai pada tujuan, bukan berarti kita gagal. Sebab kita telah menjalankan kewajiban dan insya Allah kelak akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Dalam hal ini Allah SWT telah menjamin orang-orang yang berjuang menegakkan dan membela agama Allah, maka Dia akan menolong mereka dan memberi kekuasaan di muka bumi.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.” (TQS Muhammad: 7).
Hanya dengan usaha dan doa insya Allah cita-cita kaum muslimin untuk bersatu di bawah payung Daulah Khilafah Islamiyah akan terwujud. Amin.[kholda najiah, mediaumat.com]

0 komentar:

Posting Komentar