Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

HUKUM MEMBERIKAN NAFKAH


Hukum Seputar NAFKAH

Nafaqah, secara harfiah artinya belanja dan pengeluaran. Secara istilah, didefinisikan oleh al-‘Allamah Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, dengan:
“Ditetapkannya kewajiban atas sesuatu, selama masih ada [terus berlangsung].”1
Hukum memberikan nafkah bisa:
1- Fardhu ‘ain: seperti menafkahi diri sendiri, isteri atau kerabat, atau karena terpaksa, sebab jika tidak diberi nafkah, orang tersebut akan binasa, sementara tidak ada orang lain, kecuali kita.
2- Fardhu kifayah: seperti memberi nafkah kepada orang yang membutuhkan, sementara ada yang lain, selain kita. Nafkah seperti ini wajib bagi seluruh kaum Muslim. Jika telah ditunaikan oleh sebagian, maka kewajiban tersebut gugur dari sebagian yang lain.
3- Mustahab [sunah/tidak wajib], seperti memberi nafkah kepada fakir miskin secara umum, ketika banyak orang yang bisa membantu, sementara kita bukan satu-satunya yang bisa membantu.
Mengenai sebab yang menjadikan nafkah tersebut wajib, bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
1- Penahanan [ihtibas]: Siapa saja yang menahan orang atau hewan untuk kemaslahatannya, maka dia wajib memberi nafkah kepada orang dan hewan tersebut. Karena itu, ketika seseorang memelihara hewan, dia wajib memberinya makan, minum dan kebutuhan yang diperlukan. Begitu juga, ketika seorang suami yang telah memperisteri seorang wanita, maka dia pun wajib memberinya nafkah.
2- Kemiskinan [faqru]: Nafkah orang tua kepada anaknya setelah dewasa, anak kepada orang tuanya, atau kerabatnya ketika mereka semuanya membutuhkan termasuk nafkah yang diwajibkan, karena faktor kemiskinan ini. Karena itu, jika anak dewasa, orang tua dan kerabat yang kaya, maka tidak lagi wajib diberi nafkah.
3- Terpaksa [idhthirar]: orang yang tidak mempunyai siapa-siapa, dan membutuhkan sesuatu yang dimiliki seseorang, sementara dia berlebih, maka nafkah orang tersebut menjadi fardhu ‘ain bagi orang tadi. Namun, jika ada orang lain yang bisa membantu, kewajiban tersebut berubah menjadi fardhu kifayah, tidak fardhu ‘ain lagi bagi orang tersebut.

Lalu, siapa yang berkewajiban memberi nafkah? Maka, harus dirinci. Rinciannya dalam hukum Isalam sebagai berikut:
1- Nafkah diri sendiri: Menafkahi diri sendiri, bagi yang mampu, hukumnya wajib. Ini berlaku bagi orang dewasa yang mampu membiayai dirinya sendiri. Membiayai diri sendiri harus didahulukan ketimbang membiayai orang lain, meski hukum asalnya wajib. Karena itu, dia wajib membiayai diri sendiri, didahukukan ketimbang anaknya, orang tua dan isterinya.

2- Nafkah isteri: Suami berkewajiban memberi nafkah kepada isterinya, meskipun isterinya kaya. Tidak dilihat lagi, apakah suaminya dewasa atau belum, kaya atau miskin. Nafkah suami kepada isterinya berlaku sejak isterinya “ditawan” suaminya. Karena, nafkah ini sebagai konsekuensi dari “penahanan” suami atas isterinya. Nafkah untuk isteri didahulukan ketimbang anak, kedua orang tua dan kerabat. Namun, jika isterinya melakukan nusyuz,2 maka kewajiban nafkah tersebut gugur dari suaminya. Jika suaminya kesulitan, sementara isterinya kaya, maka isterinya wajib membiayai suaminya dan dirinya, sebagai orang terdekat. Jika tidak bersedia, dia berhak untuk mengajukan talak. Dalam kondisi kesulitan, isteri tidak boleh berhutang atas nama suaminya, tanpa seizin suaminya, meski untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

3- Nafkah wanita yang menunggu masa iddah: Wanita yang menunggu masa iddah, boleh jadi dalam keadaan hamil atau tidak. Jika hamil, mantan suaminya wajib memberinya nafkah, baik karena talak bai’n maupun raj’i.3 Dasarnya firman Allah SWT dalam al-Qur’an:
“Jika wanita [yang menunggu iddah] itu sedang hamil, maka berikanlah nafkah kepada mereka hingga melahirkan anaknya…” [Q.s. at-Thalaq: 6]

Jika tidak hamil, baik karena talak raj’i atau ba’in bainunah shughra atau kubra, maka isterinya berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Namun, jika masa ‘iddah karena li’an, dimana statusnya fasakh,4 bukan talak, isterinya tidak berhak mendapatkan nafkah juga tempat tinggal.

Jika dia menunggu ‘iddah, karena suaminya meninggal dunia, maka isterinya tidak berhak mendapatkan nafkah, kecuali tempat tinggal saja. Karena harta peninggalan suaminya telah berubah menjadi warisan, sementara isterinya tidak berhak mendapatkan warisan, kecuali yang menjadi haknya. Megenai tempat tinggal tetap wajib, dasarnya hadits al-Furai’ah, ketika dia meminta izin kepada Nabi saw. untuk meninggalkan rumahnya menemui keluarganya di Bani Khudrah, maka Nabi saw. titahkan:
“Tetaplah tinggal [di rumah] hingga ketentuan itu sampai pada waktunya…” [Hr. Abu Dawud]

Perintah Nabi saw. untuk tetap tinggal di rumah suaminya, sekaligus menjadi dasar, bahwa disediakannya rumah untuk isteri yang ditinggal mati tetap menjadi hak isteri, yang wajib dipenuhi.

4- Nafkah kerabat: Kerabat yang berhak mendapatkan nafkah harus memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut:
a- Miskin: Kerabat tersebut miskin, tidak mempunyai harta, pekerjaan yang bisa digunakan untuk membiayai hidupnya.
b- Orang yang wajib memberinya nafkah kaya: Orang yang diwajibkan untuk memberi nafkah juga harus kaya, dan mempunyai harta untuk membiayai kerabatnya, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Jika salah seorang di antara kalian miskin, maka hendaknya memulai [nafkah] dengan dirinya sendiri…” [Hr. Muslim]
c- Orang yang wajib dinafkahi mempunyai hubungan mahram: Alasannya, nafkah kepada kerabat merupakan bentuk silaturrahim pada kerabat dekat, bukan kerabat jauh. Kerabat dekat adalah orang yang mempunyai hubungan “rahim muharramah” sehingga disebut kerabat dekat.

Mengenai kadar nafkah yang wajib diberikan kepada orang yang wajib dibiayai adalah makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pengobatan dan kebutuhan lain, seperti biaya transportasi, perlengkapan kebersihan, pendingin ruangan –jika negerinya termasuk negeri tropis, yang memang sangat dibutuhkan, atau pemanas –jika negerinya termasuk bersuhu dingin. Menikahkan dan biasa biaya pernikahan juga termasuk bagian dari nafkah yang diwajibkan, karena dianggap sebagai kebutuhan.

Kadarnya memang tidak dibatasi dengan batasan tetap, tetapi sesuai dengan kadar kemampuan, dari aspek kuantitas maupun kualitas. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Hendaknya orang yang mempunyai kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya. Dan siapa saja yang disempitkan rizkinya, hendaknya dia memberikan nafkah sesuai dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya. Allah tidak membebani manusia, kecuali sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya…” [Q.s. at-Thalaq: 7]

————————
1- Al-‘Allamah Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, Dar al-Jil, Beirut, cet. I, 2000 M/1421 H, Juz II/1895.
2- Istilah Nusyuz hanya berlaku dalam dalam kasus pembangkangan isteri kepada suaminya dalam dua hal: Pertama, kehidupan suami-isteri. Kedua, urusan rumah. Dalam konteks lain, seperti isteri mempunyai bisnis di luar rumah, kemudian tidak mengikuti kemauan suaminya, maka pembangkangan dalam kasus seperti ini tidak disebut Nusyuz.
3- Disebut talak Raj’i, karena suami masih mempunyai kesempatan kembali. Sedangkan disebut ba’in, karena keduanya harus berpisah, dan bisa kembali dengan akad baru. Dalam hal ini, ada dua: Pertama, ba’in bainunah shughra ketika isteri masa iddah-nya dari talak I dan II, sementara suaminya tidak menyatakan rujuk. Dalam kondisi seperti ini, jika suaminya mau rujuk, harus akad baru, sebagaimana pernikahan pertama. Kedua, ba’in bainunah kubra, dimana suami-isteri harus benar-benar berpisah akibat takal III. Kalaupun boleh kembali, mantan isterinya harus dinikahi pria lain, dan disetubuhi, kemudian diceraikan. Setelah itu, baru boleh dia nikahi. Namun, tidak boleh dilakukan dengan konspirasi antara suami pertama dengan kedua.
4- Li’an adalah proses, dimana suami isteri saling melaknat di depan pengadilan, karena tuduhan zina yang dialamatkan suami kepada isterinya, sementara tidak ada bukti 4 saksi. Status setelah li’an ini, maka hubungan suami-isteri batal untuk selamanya. Karena itu, tidak dihukumi seperti talak, sehingga ada masa ‘iddah-nya, tetapi dihukumi fasakh, dengan ‘iddah cukup sekali haid atau sebulan untuk membersihkan kandungan dari kehamilan.

KH Hafidz Abdurrahman


Senin, 30 Januari 2012

Ukhtybelle - Islam, I love you so much

Islam i love you, love you love you so much
Since i found out love is you

Cinta satu kata penuh makna
Cinta bawa hati bahagia
Dari sekian juta keindahan dunia
Di mata hatiku Islamlah keindahan hidupku

Islam i love you, love you, love you so much
And i need you, need you in my life
Islam i need you, need you, need you so much
Since i found out love is you

Cinta temani suka dan duka huuu…
Cinta bawaku bahagia bahagia
Dari sekian juta keindahan dunia
Di mata hatiku mata hatiku
Hanya Islamlah yang ku banggakan

Islam i love you, love you, love you so much
And i need you, need you in my life
Islam i need you, need you, need you so much
Since i found out love is you

Islam i love you, Islam i need you
Islam i love you, Islam i need you
Islam i love you, Islam i need you
Islam i love you, Islam i need you

Islam i love you, love you, love you so much
And i need you, need you in my life
Islam i need you, need you, need you so much
Since i found out love is you

Islam i love you, love you, love you so much
And i need you, need you in my life
Islam i need you, need you, need you so much
Since i found out love is you, since i found out love is you

Islam i love you, Islam i need you
Islam i love you, Islam i need you

(plesetan: Lagu Cherry Belle – Love Is You, by: miau iseng)

Sabtu, 15 Oktober 2011

lyric lagu "Terlalu Lama" Versi Islami

sudah lama ku menanti dirimu
tak tahu sampai kapankah
sudah lama kita proses ta'aruf
tapi segini sajakah

entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan

reff:
hari ini ku akan meminta di Khitbah, minta di Khitbah...
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama...

sadarkah kau, aku adalah akhwat..
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu


repeat reff
hari ini ku akan meminta di Nikah, minta di Nikah...
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama...

(by: miau iseng nyemangatin para Jomblo)

Minggu, 14 Agustus 2011

ingin ku tanam cinta dilisanku agar tak ada hati yang terluka sehingga ku jauhkan dari Neraka-Nya

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.(Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat yangdiketengahkan oleh Imam at-Tirmidzi dijelaskan bahwa kunci untuk meraih keluhuran jiwa adalah menjaga lisan. Mu’adz ra berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah beritahukan kepada saya amal perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam sorga dan menjauhkan dari neraka?” Beliau bersabda: “Kamu benar-benar menanyakansesuatu yang sangat besar. Sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah SWT, yaitu: Hendaklah kamu menyembah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatuapapun, mendirikansholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bila kamu mampu menempuh perjalanannya.”
Selanjutnya, beliau bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, shadaqah dapat menghilangkan dosa seperti halnya air memadamkan api, dan sholat seseorang pada tengah malam.” Beliau lantas membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, serta mereka menafkahkan sebagian rizki yang telah Kamiberikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam-macam nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Lalu, beliau bertanya kembali, “Maukah engkau aku tunjukkan pokok dan tiang dari segala sesuatu dan puncak keluhuran?” Saya berkata, “Baiklah ya Rasulullah.”

Rasulullah Saw berkata, “Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak keluhurannya adalah berjuang di jalan Allah.”

Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkantentang kunci dari kesemuanya itu?” Saya menjawab, “Tentu ya Rasulullah.”

Beliau lantas memegang lidahnya seraya berkata, “Peliharalah ini.” Saya berkata, “Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut atas apa yang kami katakan?” Beliau bersabda “Celaka kamu, bukankah wajah manusia tersungkur ke dalam neraka, tidak lain karena akibat lidah mereka?” [HR. at-Tirmidzi].

11 Nasehat Rosululloh kepada Fathimah az-zahra rha

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya.

Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT.

Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.

Kamis, 11 Agustus 2011

Belajar Romantis dengan ayat Al-Qur'an dan Hadits

Cobalah saat kau berdua dengan Istrimu kau bacakan ayat ini:

"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. AT-TAGHAABUN:4)

setelah itu katakan padanya: "nah...oleh karena itu aku ingin kamu ngomong jujur kepadaku, jangan kau tutupi rasa dihatimu padaku. katakan sejujurnya padaku bahwa kau sangat mencintaiku...untuk apa kau malu mengungkapkannya padaku, aku kan suamimu. kuharap rasa itu tak hanya Alloh yang tahu tapi aku juga kau beri tahu, karena Alloh telah mengamanahkanmu padaku sejak Ijab Qobul itu diucap.

sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

“Bertakwalah kamu dalam memperlakukan kaum wanita. Karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kehormatan merekan dengan kalimat Allah” (HR. Muslim)

jadi ayo dong ungkapkan perasaan hatimu padaku....bisikkan ditelingaku...bisikkan apa yang ada diqolbumu....duhai Istriku".

~SELAMAT MENCOBA~

(dambacinta.blogspot.com)

Rabu, 10 Agustus 2011

Doa Para Perindu Cinta Hakiki


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

jika diambil doanya saja maka begini:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih aku cintai melebihi cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.”

Semoga kita dijauhkan dari Cinta yang bisa mencelakakan kita sebagaimana disebutkan dalam terjemah ayat dibawah ini, amin...

“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24)

(dambacinta.blogspot.com)

Selasa, 31 Mei 2011

akhi...kenapa kau begitu antusias berdakwah setelah mengenalku?

Niat...kata ini sederhana dan tak mampu dilihat oleh mata. dia ada di hati, tapi oleh Alloh dia diberi posisi yang sangat penting dalam sebuah amal. amal akan menjadi sempurna jika dia ada pada posisi yang seharusnya. dia bagai separuh hati bagi sebuah amal, khususnya amal yang sudah sesuai syari'ah-Nya. sedang untuk amal yang tidak sesuai Syari'ah dia tak berarti apa-apa. karena amal akan diterima/diridhai oleh Alloh jika memenuhi 2 Syarat:

1. Sesuai dengan tuntunan Syari'at.

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

2. Niat karena Alloh SWT.

Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.” (I’lamul Muwaqqi’in VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman).

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ Iيَقُوْلُ
 إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

lalu apa kaitannya dengan judul tulisan diatas?
kali ini saya ingin memfokuskan pada bahasan niat, khususnya niat seseorang saat ingin berubah dari kehidupan yang jahiliyah menuju kehidupan yang sesuai syariat. dari orang yang biasa menjadi orang yang hari-harinya dipenuhi dengan aktifitas dakwah. dari akhlak yang biasa menjadi akhlak yang mempesona.
Beberapa hal diatas silahkan lihat pada masing-masing kita, benarkah niat kita sudah bersih? khususnya pemuda maupun pemudi yang aktif dalam sebuah lembaga dakwah, benarkah aktifitas yang dilakukan benar-benar lillahita'ala atau bisa jadi ada kotoran dalam hati yang merusak amalan kita. adakah dihati terbersit "kalo saya begini(bersikap lembut, berakhlakul karimah, semangat berdakwah dst) mungkin suatu saat si dia bakalan menaruh hati sama gue...". Naudzubillahi min dzalik.(dambacinta.blogspot.com)

Senin, 30 Mei 2011

Merekalah Sosok para peCINTA Islam

Bruk! Untuk ke sekian kali, kepala ustadz muda itu terbentur. Kali ini kepalanya membentur kusen pintu masjid saat ia hendak keluar seusai menunaikan shalat ashar berjamaah. Saat itu, setelah shalat, ia memang agak buru-buru karena harus segera menemui seseorang untuk kepentingan dakwah.

‘Peristiwa biasa' yang saya saksikan dari jarak kira-kira lima meter itu, entah mengapa, membuat hati saya trenyuh. Saya pun menangis dalam hati. Tidak lain karena ustadz muda yang saya ceritakan kali ini adalah seorang yang buta. Namun, kondisinya yang buta itu tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk senantiasa menunaikan shalat berjamaah di masjid lima kali sehari. Hal itu sudah bertahun-tahun ia jalani, terutama sejak ia mengalami kebutaan permanen sekitar tiga­empat tahun lalu. Saya pun teringat Sahabat Nabi saw. Abdullah bin Ummi Maktum yang juga buta. Ia pun senantiasa shalat berjamaah di masjid karena memang Nabi saw. tidak memperkenankan dirinya shalat di rumah selama ia mendengar azan di masjid.

Sabtu, 28 Mei 2011

KOMPOR CINTA UNTUKMU

awas meleduk...!!! <(^_^)>
Saat ini banyak lelaki yang menunda menikah karena ingin mengejar karir. Salah satu contohnya adalah Ruhut Nazaruddin. Begitu sibuknya sampai ia lupa bahwa usianya sudah kepala empat namun ia masih lajang. Saat ada kejadian besar dalam hidupnya yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) baru ia tersadar bahwa dirinya belum berkeluarga. Menyadari hal itu akhirnya ia mengiklankan dirinya melalui salah satu biro jodoh.

Iklan yang ia pasang bunyinya begini:

Seorang lelaki usia 41 tahun, baru saja terkena PHK, blasteran Batak-Jawa, tinggi 170 cm, kulit sawo matang, wajah lumayan.

Mencari seorang istri dengan kriteria: cantik, suku apa saja, usia tidak lebih dari 30 tahun, kulit putih mulus, berat badan ideal, diutamakan model atau artis, bersedia membiayai hidup suami, bersedia memberikan modal kerja pada suami, bila suami menikah lagi harus ikhlas dan membiayai semua biaya pernikahnnya.

Bila Anda berminat, segera kirimkan lamaran ke biro jodoh ini. Hanya yang memenuhi syarat yang di seleksi.(jamilazzaini.com)

satu kata buat dia....WEDEW...........:D

IBROH

janganlah menunda-nunda nikah dengan alasan pingin punya ini-itu dulu, padahal kita tidak tahu Rizqi kita seberapa. segeralah menikah dan tetap berikhtiyar dengan sungguh-sungguh dalam mencari rizqi & seberapapun pendapatanmu maka jangan pesimis untuk menikah. carilah istri yang shalihah. Yakinlah akan kabar gembira dari Alloh swt.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

Jumat, 27 Mei 2011

Ibu Ideologis Pejuang Khilafah

Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia.

Puluhan Muslimah berjalan kaki di Tunisia sembari memekikkan 'Allahu Akbar' dengan lantang. Para perempuan berjilbab ini menuntut ditegakkannya syariah dan Khilafah di negaranya yang baru saja terjadi revolusi. Gerakan rakyat yang sukses menumbangkan rezim sekuler-kapitalis, yang menginspirasi makin bergulirnya seruan Khilafah.

Ya, kegagalan sistem kapitalisme dalam menyejahterakan masyarakat dunia, baik Muslim maupun non Muslim semakin nyata. Termasuk kegagalan kapitalisme dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Tuntutan penerapan syariah dan khilafah pun bukan lagi sekadar wacana. Ibarat bola salju, makin besar dan lajunya makin kencang. Tak hanya di Tunisia, tuntutan Khilafah juga menggema di seluruh pelosok dunia. Hanya, media massa tidak menyiarkannya sehingga seolah terdengar samar-samar.
Nah, kaum perempuan turut punya andil dalam menyuarakan wajibnya penerapan syariah dan Khilafah. Apa perannya?

Kamis, 26 Mei 2011

Muhasabah: Mereka sepasang kekasih yang Tak Boleh di Pisahkan

Siapa sih mereka?
mereka adalah CINTA dan KETAATAN.

Al Baidhawi berkata cinta adlh keinginan tuk taat.

Ibnu Arafah berkata cinta menurut istilah orang arab adalah menghendaki sesuatu tuk meraihnya

dan ARTI CINTA SEORANG HAMBA KEPADA ALLAH DAN ROSULNYA ADaLaH MENAATI PERINTAH ALLAH DAN ROSULNYA

Al Zujaz berkata cintanya manusia kepada Allah dan rosulnya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala printah Allah dan segala ajaran yang di bawa rosulullah

Al Azhari berkata cinta Allah pada hambaNYA adalah membrikan kenikmatan padanya dengan memberi ampunan.

Sufyan bin Uyainah berkata:
arti dari niscaya Allah akan mencintaimu adlh Allah akan mndekat padamu.
Cinta adalah kedekatan.

kecintaan seorang hamba pada Allah dan rosulnya adalah kewajiban.

Karena mahabbah (cinta) merupakan salah satu kecenderungan yang akan membentuk nafsiah seseorang.

Cinta pada Allah dan rosul adalah jenis kecintaan yang terikat pada mafhum syar'i yang telah diwajibkan.(lihat di al baqarah 165).

cinta itu taat, muncul dari rasa lemah dan butuh pada sesuatu dan cinta itu butuh pengorbanan..

kecintaan pada Allah ta'ala dan rosulnya, akan membuat seorang hamba merasa bahwa Allah itu dekat dan akan membuat seorang hamba mawas diri akan peringatan-peringatan yang diberikan dan akan selalu berusaha tuk menggapai ridhoNYA..

kecintaan seiring dengan ketaatan

perasaan cinta pada Allah dan rosul adalah wajib

kecintaan pada Allah dan rosul menjdikan kita sosok yang berani berkorban.

cinta karena Allah adalah mencintai hamba Allah karena keimanan pada Allah dan ketaatan padaNYA.

benci karena Allah adalah membenci hamba Allah disebabkan kekufuran dan perbuatan maksiatnya.

cinta itu artinya MENJAUH...menjauhi apa yang dilarang-Nya(keharaman, kemaksiatan) bahkan jika cinta itu makin membuncah maka yang dibencinyapun akan ditinggalkan(kemakruhan).
dan bila Cinta sudah mencapai Puncak Tertingginya segala sesuatu yang mubah/sia-siapun ia tinggalkan dan ia lebih memilih memanfaatkan waktunya untuk melakukan sesuatu yang hanya bernilai CINTA kepada-Nya.(sunnah dioptimalkan, tiada waktu tanpa dakwah dst).wallohu a'lam bisshowab.

oleh: Maya & admin Damba Cinta
Semoga apa yang hamba tulis mampu hamba terapkan dengan Optimal...aamiin...


Minggu, 22 Mei 2011

Muhasabah Cinta: Mutiara-mutiara CINTA Rosululloh SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Jumat, 20 Mei 2011

Muhasabah: Noktah Hati yang Menodai Cinta kepada-Nya

Jika kau merasa besar,
periksa hatimu...
Mungkin dia sedang bengkak
karena kesombonganmu.

Jika kau merasa suci,
periksa jiwamu...
Mungkin putihnya adalah nanah
dari nurani yang terluka.

Jika kau merasa tinggi,
periksa batinmu...
Mungkin dia sedang melayang
kehilangan tempat berpijak.

Jika kau merasa wangi,
periksa keikhlasanmu...
Mungkin itu asap dari amal sholeh
yang terbakar karena riya'
(by: nur firman)

"ya Robb jauhkan Hamba dari sifat-sifat tercela diatas..."

 "Sucikanlah hati-hati kami dari segala sifat yang tercela, yang dapat menjauhkan kami dari musyahdah(menyaksikan) akan Engkau."

"Ya Alloh karuniakan kepada diri kami sifat-sifat ketaqwaannya. Bersihkanlah jiwa-jiwa kami karena Engkaulah sebaik-baik yang dapat membersihankannya. Engkaulah yang memilikinya dan Engkaulah Penolongnya."

amin......

Minggu, 15 Mei 2011

Keluasan bahasa arab menjelaskan satu kata “CINTA”


Salah satu kelebihan bahasa ‘arab adalah kosakatanya yang sangat banyak, satu kata bisa memiliki makna yang lebih (hampir 50), disini saya akan berbagi dari satu kata CINTA. Tingkatannya seperti apa saja. Kalau membandingkan dengan bahasa lain kayanya ga ada yang bisa menyaingi kesempurnaan dari bahasa ‘arab.

Ibnu Qayyim Al Jauziy rah dalam kitabnya Dzamm Al Hawa menjelaskan peringkat dan makna cinta serta kosakata yang menggambarkannya.

Pandangan mata atau berita yang didengar bisa melahirkan rasa senang disebut ‘Aliqa

Apabila melebihinya sehingga terbetik untuk mendekat maka dinamai Mail

Dan bila keinginan itu mencapai tingkat kehendak untuk menguasainya maka dinamai Mawaddah

bila seseorang bersedia berkorban atau membahayakan dirinya demi kekaksihnya dinamakan Al ‘Isyq

Sedangkan jika cinta telah memenuhi hati seseorang sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lain maka dinamakan at tatayum

Jika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya atau tidak mampu lagi berpikir membedakan sesuatu akibat cinta maka keadaan ini dinamai Walih

Selanjutnya ada tingkat Mahabbah , menurut Imam Al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyful Mahjub menjelaskan makna al-hubb (mahabbah).

Sabtu, 14 Mei 2011

Membangkitkan Kebahagiaan Antara Suami Istri Dalam Wadah Kehidupan Cinta Dan Kasih Sayang


Untaian cinta dan kasih sayang antara suami-istri adalah untaian cinta dan kasih yang didasarkan atas prinsip persahabatan yang saling mengerti, memahami, saling mendukung dan penuh keakraban. Bukan sebaliknya yaitu kedekatan formalistik yang kering dari untaian cinta kasih sayang dan empati. Seperti inilah apa yang selalu kita dengar dan baca bagaimana indahnya merajut kehidupan suami-istri yang aman dan penuh ketentraman dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Namun kita saksikan pada saat sekarang ini, umat Islam hidup dalam masa yang paling hitam. Kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri dimana kita hidup telah menimbulkan ketimpangan dan kesulitan yang memasung tiada henti hingga melilit keluarga-keluarga Muslim.

Ragam ujian akhirnya kian menderas menimpa kehidupan suami-istri. Selisih pendapat dalam memilih dimana akan menetap, berinteraksi terhadap orang tua suami (mertua), atau hubungan antara wanita (istri) dengan kedua orang tuanya, atau berkunjung ke kerabat suaminya. Selisih pendapat antara suami isteri terus berlangsung bahwa ini adalah haknya atau ini adalah hak pasangannya, dan yang itu adalah kewajibannya atau kewajiban pasangannya. Masing-masing dari keduanya berpegang dengan pandangannya dengan dugaan bahwa itu adalah hak menurut hukum-hukum syara’ yang tidak boleh suami dan atau istri tinggalkan.

Sabtu, 30 April 2011

Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah


Nabi Daud ’alihis-salaam merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan langsung oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat rajin mendekatkan diri kepada Allah. Beliau sangat rajin memohon kepada Allah agar dirinya dicintai Allah. Beliau sangat mengutamakan cinta Allah lebih daripada mengutamakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri dan air dingin yang bisa menghilangkan dahaga musafir dalam perjalanan terik di tengah padang pasir. Inilah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai doa Nabi Daud tersebut:


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud ’alihis salaam memohon cinta Allah. Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah artinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

ISLAM DAN POLIGAMI


Salah satu ajaran Islam yang sangat mulia adalah diperbolehkannya poligami bagi kaum laki-laki. Namun demikian, tidak jarang masalah satu ini dijadikan senjata oleh orang-orang yang benci dengan Islam untuk menohok dan mendiskreditkan ajaran Islam. Dengan alasan bias gender, keseteraan gender, dan juga feminisme mereka menyatakan bahwa poligami merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap hak-hak perempuan. Bahkan, ada sebagian pihak yang memandang poligami sebagai bentuk pelecehan terhadap kehormatan wanita. Mereka menyamakan poligami dengan bentuk pelacuran dan gundikisme.

Benar, mereka tidak memandang poligami dari sudut pandang Islam. Mereka tidak menjadikan al-Quran dan Sunnah sebagai dasar pijakan untuk menilai poligami. Akan tetapi, mereka menggunakan dalil persamaan hak dan kesetaraan gender yang lahir dari pandangan kafir barat, liberalisme dan human right (HAM) untuk menghukumi poligami. Wajar saja jika mereka mencela dan menghujat ajaran Islam yang sangat mulia itu. Namun demikian, cara-cara seperti ini jelas-jelas tidak akan berhasil mempengaruhi keimanan kaum muslim.

Mereka tidak kekurangan akal untuk mendiskreditkan poligami. Mereka mengotak-atik nash-nash yang sudah jelas maknanya dan mencari-cari ayat dan hadits agar poligami dilarang. Kajian yang mereka lakukan bukanlah kajian yang benar dan ikhlash, akan tetapi kajian yang ditujukan untuk mencari legalitas atas kemauan-kemauan politik mereka. Bahkan, mereka juga mengkritik Nabi Mohammad saw, shahabat laki-laki, para ahli hadits, tafsir, dan ahli kamus dengan alasan apa yang mereka lakukan terlalu bias gender.

Sebagian kaum muslim yang menghambakan dirinya kepada barat berusaha dengan keras memaksakan pemikiran-pemikiran ini (feminisme, kesetaraan gender, dan seterusnya) kepada kaum muslim.

Namun demikian, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia tidak akan mungkin bisa dikalahkan dengan kajian murahan yang tidak berlandaskan ‘aqidah Islam.

Lalu, bagaimana pandangan Islam sendiri terhadap poligami. Apakah poligami berhukum haram, makruh, sunnah, mubah atau bahkan wajib?

Berhati-hatilah terhadap akhwat dan ikhwan facebookiyah

Dulu aku mengenalmu,
Sejak pertama komentar di statusmu,
Lalu kau balik komentar di statusku
Semua interaksi yang terkesan biasa
komentar yang semua biasa.

Suatu hari aku tersentak kaget,
Dengan statusmu yang sama dengan statusku,

Di wall mu dan di wall ku tertulis:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)

Aku lagsung koment, bilang kalau status kita sama,
Kau tampak biasa, aku pun sama

Beberapa hari berikutnya
Di wall ku tertulis:
“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”

Kau langsung koment, status kita sama lagi,
Beberapa kali berikutnya begitu
Lagi dan lagi
Dan bukan hanya sekali dua kali

Semakin lama kita semakin dekat
Interaksi seakan begitu padat
Dari situ aku mulai terpikat
Betapa hati ini seakan terikat

Yang begitu membuatku semakin kaget
Pada hari itu,
Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama
Aku angkat…
Salam dari Suara ujung sana terdengar
Suara seorang ibu.

Jumat, 29 April 2011

Mengukur Rasa Cinta





Banyak orang menyatakan bahwa rasa cinta itu tidak bisa diukur. Sebab, jika bisa diukur apa satuan yang tepat untuk mengukurnya? Meter? Kilometer? Gram? Ton? Kwintal? Hektar? Ons? Atau satuan-satuan lain yang bersifat matematis? Oleh karena itu, rasa cinta tidak akan bisa diukur dengan apapun juga, demikian kata orang-orang. Bahkan tidak ada alat atau sarana yang bisa digunakan untuk mengukur rasa cinta. Benarkah demikian? Lalu mengapa ada orang yang menyatakan cintanya sebesar gunung, setinggi langit, sedalam lautan, dan seluas samudra? Bukankah gunung, laut, dan samudra itu juga bisa diukur? Kalau langit? Wallohu a’lam..


Saya berpendapat, mungkin kurang tepat jika cinta tidak dapat diukur. Walaupun tidak memiliki satuan ukuran, tetapi ada hal-hal yang bisa digunakan untuk mengukur rasa cinta, yaitu perhatian, rasa memiliki, dan pengorbanan. Ketiga hal inilah yang bisa kita gunakan untuk mengukur seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesuatu.