Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Dicari calon suami/istri alumni 212


*Dia Layak Jadi Jodohmu*

Oleh : Ippho Santosa

Rumput dan taman aja dia jagain, apalagi kamu.

Pintu istana dan pintu langit aja dia ketuk, apalagi pintu rumahmu.

Jalan kaki tanpa kamu aja dia kuat, apalagi jalan kaki bareng kamu.

Dihalang-halangi aja dia datang, apalagi disambut kamu.

Tanpa dibayar aja dia datang, apalagi dihadiahi kamu.

Hujan-hujanan di lapangan aja dia tetap berdoa, apalagi tahajjud di rumah bersamamu.

Di Monas aja dia munajat sampai nangis, apalagi munajat di Mekkah bersamamu.

Di Monas aja dia shalawat sampai haru, apalagi shalawat di Madinah bersamamu.

Bukan Bella Saphira, yang penting baginya bela Quran dan belain kamu.

Dia suka aksi damai di Monas, dia juga suka aksi damai dan sakinah bersamamu.

Dia belum seperti santri Ciamis, tapi ia sanggup menempuh suka-duka hidup
bersamamu.

Dialah alumni 212.

#TangkapPenistaAgama
#HaramPemimpinKafir

Sabtu, 10 November 2012

Sabar & Istiqomah dalam sebuah PENANTIAN

“Hebat sekali benda bernama perasaan itu".
Meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat,

Dia bahkan bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang”.

Orang-orang yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik.

Berusaha Sabar & Istiqomah dalam sebuah penantian yang tak ada satupun yang tahu kapan semua kan berakhir...

Insya Alloh semua kan indah pada akhirnya...

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (QS. Ar Ra’d:22)

(dambacinta.blogspot.com)

Sabtu, 16 Juni 2012

menanti bidadari di pelataran harapan



Dalam Ikhtiyarku aku bertawakal kepada-Nya dalam doa, mencari jodoh dengan kriteria Syar'ie.


Rasulullah SAW bersabda : “ Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya karena jika tidak binasalah kamu ( HR. Al- Bukhary pada kitab nikah bab orang-orang yang mampu beragama)

”Dan sesungguhnya wanita hamba sahaya yang mukmin lebih baik (untuk dikawini) dari pada wanita musyrik, sekaliun menarik hatimu."(Al-Baqarah ayat 221)


ku yakin dalam hati Dia kan memberikan lebih daripada yang aku kira. Ketika aku tidak lagi menuntut banyak kriteria cukup kesholehan saja, ku yakin Allah justru akan memberiku seorang wanita dengan kriteria yang lebih dari itu...amin...

Ketika kelak ku temukan ia aku kan bertawakal kepada Allah, dalam menerima wanita itu sebagai istriku, aku sangat yakin kepada sang Maha Pengampun, istriku akan jauh lebih baik dan lebih cantik di surga nanti. Dialah jalan bagiku untuk menuju surga Allah. Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam surgamu kelak. Amin. ( mewakili suara hati para Ikhwan galau)

Senin, 09 Januari 2012

Ta'aruf yang Sesuai Tuntunan Syariah

Ta'aruf
Dalam Islam tidak dikenal istilah berpacaran, penjajakan atau mencoba-coba dahulu. Apabila seseorang hendak menikah maka dianjurkan untuk memilih calon pendampingnya yang shalih atau shalihah agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jadi menikah dahulu kemudian menjalin cinta dan kasih sayang setelah ada ikatan pernikahan yang sah menurut syariat.

Apabila telah ada kecocokan antara pihak lelaki dengan pihak perempuan (melalui perantara dan tukar menukar bio data) maka disunnahkan untuk nadhar atau saling melihat, namun hendaklah pihak perempuan disertai mahramnya sehingga tidak terjadi khalwat (berduaan).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: ”Apabila seorang diantara kalian hendak meminang seorang perempuan, jika bisa melihat kepada apa yang menjadi daya tarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia lakukan.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad hasan)

Dianjurkan pula untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang bisa dipertanggung jawabkan dan telah berpengalaman serta berilmu.

Berbicara via telpon diperbolehkan seperlunya dengan senantiasa menjaga hati dari niat-niat buruk atau khayalan-khayalan menyimpang.(lebih amannya ada orang yang menemani saat telpon, sehingga kita bisa terjaga dari pembicaraan yang ROMANTIS yang dapat memancing syahwat).

Untuk mengetahui jati diri seseorang tidak mesti dari orangnya langsung, akan tetapi dapat dilakukan melalui teman, sahabat, tetangga, kerabat dan siapa saja yang pernah atau sering berinteraksi dengan orang tersebut.

Perlukah Sholat Istikharah Untuk Menentukan Jodoh saat ta'aruf?
Tentang sholat Istikharah untuk mencari jodoh didasarkan kepada hadits berikut ini:

"Artinya: Sembunyikan pinanganmu, kemudian berwudhu'lah dan baguskanlah wudhu'mu. Lalu sholatlah apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Kemudian (sesudah sholat) pujilah Tuhanmu dan muliakanlah Dia, lantas ucapkanlah (do'a ini), Allahuma innaka taqduru dan seterusnya (yang artinya): Ya Allah, sesungguhnya Engkau lah yang berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Dan Engkau lah yang mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui. Engkaulah yang Maha mengetahui segala perkara yang ghaib. Maka jika menurut-Mu si fulanah (disini menyebutkan nama perempuan yang akan dipinang) baik bagi Agamaku, duniaku dan akhiratku (jodohkanlah dia untukku). Akan tetapi jika selain dia ada (perempuan lain) yang lebih baik bagiku daripadanya (baik) untuk agamaku, duniaku dan akhiratku, maka jodohkanlah dia denganku." (HR Imam Ahmad dalam Musnadnya (5/423), Ibnu Khudaimah (no. 1220), Hakim (1/314), Ibnu Hibban (no 685) dan Thabrany).

Semuanya meriwayatkan dari jalan Ayyub bin Khalid bin Abi Ayyub Al Anshary, dari bapaknya (Khalid bin Abi Ayyub) dari kakeknya (Abi Ayyub Al Anshari) secara marfu'.

Maka telah berkata penyusun kitab Hadist-Hadist Dhoif dan Maudhu', Ustad Abdul Hakim dalam membahas hadits ini:

Sanad hadits ini dho'if, karena:
  1. Ayyub bin Khalid bin Abi Ayyub Al Anshary adalah perowi yang dho'if/lemah. (Baca: Tadribut Tahdzib 1/89).
  2. Bapaknya, yakni Khalid bin Abi Ayyub Al Anshary adalah perowi yang majhul'ain (Al Jarh wa Ta'dil 3/322).
Maka, demikianlah, kita tidak dapat mempergunakan hadits lemah ini sebagai sandaran untuk melakukan sholat Istikharah ketika mencari jodoh!. (Perhatikan batasannya!!!: yakni sholat istikharah dengan niat dan tujuan untuk menentukan jodoh).

Hal ini harus digarisbawahi (yakni niatan mencari jodoh ini) karena hadits-hadits tentang sholat Istikharah sendiri adalah SAH, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori (2/51, 7/162, 8/168), dan lainnya.

Tambahan:

Hadits yang saya postingkan derajatnya diatas dibawakan oleh Al Ustadz Hasbi Ash Shiddiqy di kitabnya Pedoman Sholat, halaman 502, 503 dengan judul: Sunat Istikharah untuk Mencari Jodoh (dalam kitab:Hadist-Hadist Dhoif dan Maudhu').

Jadi terkesan  bahwa untuk mencari jodoh, disunnahkan melaksanakan istikharah, padahal jika memang hati sudah mantap dengan  calon yang hendak dikawininya, maka sholat istikharah itu tidak diperlukan lagi.

(dari berbagai sumber, jika ada pendapat lain yang lebih kuat, silahkan ditulis di kolom komentar) wallohu a'lam bisshowab.



Senin, 02 Januari 2012

Apakah Jodoh Setiap Orang Telah Ditetapkan oleh Allah swt

Mungkin sering kali diucapkan oleh kita atau teman-teman kita bahwa "JODOH ada ditangan Tuhan". lalu bener nggak sih begindang...eh begitu???

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jodoh diartikan sebagai: orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; dan imbangan (www.kamusbesar.com, kata kunci: jodoh). Jika melihat fakta di masyarakat, kata jodoh untuk manusia cenderung menunjukkan suami atau isteri, bukan pasangan yang belum menikah meski keduanya memiliki kecocokan. Misalnya si B diperisteri oleh si A, berarti si B adalah jodoh si A, sedangkan si C tidak jadi diperisteri oleh si A, berarti si C bukan jodoh si A. Ini terlepas dari apakah suatu pernikahan akan berlangsung langgeng atau retak di tengah jalan dengan perceraian, karena istilah jodoh dan bukan jodoh tidak lazim digunakan untuk pasangan yang bercerai setelah pernikahannya. Terlepas juga apakah perceraian terjadi dalam waktu yang singkat atau setelah berpuluh-puluh tahun setelah pernikahan.

Apabila kita hubungkan dengan pertanyaan di atas, maka arti yang tepat yang dimaksud oleh saudari penanya adalah pasangan hidup yang sah alias suami atau isteri. Sehingga pertanyaannya menjadi: apakah suami atau isteri kita nantinya sudah ditetapkan oleh Allah swt?

Tidak Berdasarkan Dalil

Selama ini tersebar pemahaman di tengah masyarakat bahwa pasangan hidup –baik suami mupun isteri– setiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah swt. Anggapan ini antara lain disandarkan kepada dalil-dalil berikut.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [الروم/21]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari diri kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum [30]: 21)
 

Selasa, 31 Mei 2011

akhi...kenapa kau begitu antusias berdakwah setelah mengenalku?

Niat...kata ini sederhana dan tak mampu dilihat oleh mata. dia ada di hati, tapi oleh Alloh dia diberi posisi yang sangat penting dalam sebuah amal. amal akan menjadi sempurna jika dia ada pada posisi yang seharusnya. dia bagai separuh hati bagi sebuah amal, khususnya amal yang sudah sesuai syari'ah-Nya. sedang untuk amal yang tidak sesuai Syari'ah dia tak berarti apa-apa. karena amal akan diterima/diridhai oleh Alloh jika memenuhi 2 Syarat:

1. Sesuai dengan tuntunan Syari'at.

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

2. Niat karena Alloh SWT.

Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.” (I’lamul Muwaqqi’in VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman).

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ Iيَقُوْلُ
 إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

lalu apa kaitannya dengan judul tulisan diatas?
kali ini saya ingin memfokuskan pada bahasan niat, khususnya niat seseorang saat ingin berubah dari kehidupan yang jahiliyah menuju kehidupan yang sesuai syariat. dari orang yang biasa menjadi orang yang hari-harinya dipenuhi dengan aktifitas dakwah. dari akhlak yang biasa menjadi akhlak yang mempesona.
Beberapa hal diatas silahkan lihat pada masing-masing kita, benarkah niat kita sudah bersih? khususnya pemuda maupun pemudi yang aktif dalam sebuah lembaga dakwah, benarkah aktifitas yang dilakukan benar-benar lillahita'ala atau bisa jadi ada kotoran dalam hati yang merusak amalan kita. adakah dihati terbersit "kalo saya begini(bersikap lembut, berakhlakul karimah, semangat berdakwah dst) mungkin suatu saat si dia bakalan menaruh hati sama gue...". Naudzubillahi min dzalik.(dambacinta.blogspot.com)