Tampilkan postingan dengan label istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

Alhamdulillah.....Ternyata Isteriku Tidak Cantik

Istriku tidak cantik, standar dan biasa saja. Aku juga sadar bahwa dia tidak cantik dan kalau bersanding denganku maka aku nampak lebih rupawan dari dia. Badannya kecil ada dibawah dadaku, juga kulitnya agak hitam, lebih putih kulitku, satu lagi kakinya agak pincang, yang kanan lebih kecil sedikit daripada yang kiri. Aku menyadarinya ketika aku sudah menikahinya, namun aku sadar bahwa aku telah memilih dia dengan ikhlas dihatiku, kan aku yang memilih, bukan dia yang memaksa, dan walau istriku tidak cantik, namun aku mencintainya. Allah taburkan rasa cinta itu ketika malam pertama aku bersamanya.

Dimataku dia tetap tidak cantik, namun aku nyaman bila melihat senyumannya. Dia selalu menerima apa adanya aku, sempat aku pulang tidak bawa gaji seperti yang dijanjikan di lembar penerimaan karyawan bahwa gajiku tertera 4 juta sekian-sekian, namun karena aku selalu terlambat dan juga sering bolos lantaran mengantar si kecil ke rumah sakit dan juga si sulung ke sekolah maka hampir 40 % gajiku dipotong. Subhanallah dia tidak bersungut, malah segera bersiap menukar menu makanan dengan yang lebih sederhana dan bersikeras meminjam komputer butut kami untuk menulis artikel yang dikirimkannya ke beberapa majalah yang terkadang satu atau dua artikel ditayangkan, dan baginya itu sudah Alhamdulillah bisa menambah sambung susu anakku.

Istriku tidak cantik, namun aku ingat, banyak sekali sumber daya alam yang buruk bahkan legam dan membuat tangan kotor namun tetap dicari, diburu dan dipertahankan orang, seperti batubara. Istriku mungkin bukan emas, dia mungkin batubara, keberadaannya selalu menghangatkan hatiku dan selalu membuatku tidak merasakan resah. Aku membayangkan bila aku menyimpan batubara satu kilo dirumahku dibandingkan dengan menyimpan emas satu kilo dirumahku, maka aku tidak akan dapat berjaga semalaman bila emas yang kusimpan. Namun bila batubara yang ku simpan, aku masih punya izzah ada barang yang ku simpan yang cukup berharga, namun aku tetap dapat tidur nyenyak dengannya.

Bayangkan bila istriku sangat cantik, mungkin aku tidak akan tenang membayangkan dia ke pasar dilirik semua lelaki, membayangkan dia sms-an dengan bekas pacar-pacarnya dulu, membayangkan mungkin dia bosan padaku. Akh.. aku bersyukur istriku tidak cantik sehingga aku bisa tidur nyenyak walau banyak nyamuk sekalipun. Istriku tidak cantik, namun dia adalah istri terbaik untukku.

Pesanku: aku selalu melihat sisi baik dari istriku yang membuatku merasa sama dan nyaman dengannya. (Red/eramuslim/www.dambacinta.blogspot.com)

Rabu, 17 Juli 2013

my husband is om miau


sekedar ingin menyegarkan kembali rasa yang mungkin sudah sedikit terkikis oleh karena seringnya kita bertemu dan menjalani rutinitas kehidupan rumah tangga. sehingga tak jarang kita kurang merasakan romantisme hidup seperti saat-saat awal kita menikah.

salah satu cara yang bisa kita coba adalah dengan mengenang momen-momen indah yang pernah dilakukan bersama, seperti dengan membayangkan awal pernikahan, membayangkan kembali bagaimana saat kita khitbah....saat kita awal ijab qabul.....membayangkan saat kita pertama kali mendapat momongan dan bisa pula membayangkan saat kita bercengkrama menikmati rekreasi keluarga.

tak butuh banyak waktu untuk melakukan itu semua. hanya dengan sedikit meluangkan waktu didalam ruang hati untuk bisa membayangkan dan merasakan kenangan indah itu. menjadikannya prolog untuk menyemai kembali romantisme cinta yang mungkin agak pudar oleh rutinitas kesibukan sehari-hari. met mencoba tips saya... (miau ideologis).

Kamis, 02 Mei 2013

mencintaimu itu anugerah

aku menemani istriku seolah-olah itu perjumpaan terakhir
dan meninggalkan anakku seolah-olah takkan bertemu lagi

aku takut melampiaskan amarah pada anak-anak
karena aku khawatir itu yang terakhir mereka ingat

aku benci pergi dari istriku dalam keadaan marah
karena bisa jadi itu yang terakhir yang dia kenang

aku menulis agar anak-anakku mengenal persis siapa ayahnya
bukan dari lisan orang lain tapi dari tulisan ayahnya

aku meninggalkan istriku karena aku tahu persis
bahwa yang dia dan aku cari tiada ada di rumah

di medan perang ada nikmat yang tak disediakan ranjang
di medan dakwah ada bahagia yang tak didapat di rumah

mencintaimu itu anugerah
membencimu itu musibah

by: felix siauw

Senin, 11 Maret 2013

Aku Bukan Suami yang Sempurna



Tadi malam, dua jam lebih saya berdiskusi dengan istri tentang eksistensi seorang istri. Ternyata banyak wanita yang galau. Mereka ingin eksis, tetapi bingung. Ingin bisnis, takut. Ingin mengejar karir, waktunya tidak seleluasa para pria. Ingin fokus mendidik anak, tetapi kemudian merasa ilmu yang didapat saat kuliah sia-sia.

Banyak wanita yang salah persepsi, mengira eksistensi istri itu dilihat dari penghasilan yang mereka dapatkan. Salah kaprah ini menjadikan tugas tambahan untuk seorang istri menjadi semakin berat. Hal ini terkadang diperparah dengan suami yang sering “memalak” penghasilan istri.

Sebenarnya tugas utama istri itu begitu berat dan mulia. Apa itu? Mendukung suami menjadi lelaki yang hebat dalam karir atau bisnis sekaligus mendidik serta menyiapkan masa depan ana. Peran yang bisa dijalankannya begitu besar, ia manajer di rumah, pelatih, partner, konsultan dan pengayom bagi anggota keluarganya.

Apakah wanita tidak boleh bekerja atau berkarir? Tentu boleh, tetapi setelah tugas utamanya terselesaikan dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan karir atau bisnis suaminya berkembang pesat. Anak-anaknya secara pendidikan, mental, spiritual terus tumbuh dan memiliki karakter yang kuat.

Pendidikan berkarakter bagi anak bukan hanya ditentukan prestasi akademik di sekolah, hafal doa dan ayat-ayat pendek dari Kitab Suci, dan menjadi “anak baik” saat diajak bepergian. Tetapi lebih penting dari itu, sentuhan, perhatian dan transfer attitude serta suri tauladan yang bisa dirasakan, dilihat dan didengar seorang anak, terutama dari ibunya.

Dengan tugas yang begitu berat itu, seharusnyalah ia dihormati, dijaga, dimuliakan dan dibayar sangat mahal oleh suaminya. Ia tak harus lelah bekerja, berkarir atau berbisnis. Karena bekerja bukanlah tugas utama seorang istri, maka andai ia berpenghasilan sungguh wajar apabila suami tidak berhak satu rupiahpun atas penghasilan istri. Sang suamipun harus tahu diri dan memiliki rasa malu meminta penghasilan istrinya.

Dari hasil diskusi tadi malam kami berkesimpulan, agar tak galau memang istri perlu aktivitas tambahan. Aktivitas itu tidak harus selalu bekerja, berbisnis atau sesuatu yang menghasilkan uang. Seorang istri harus diberi kesempatan dan dukungan untuk bisa berbagi dan berkontribusi sesuai dengan passionnya agar ia merasa semakin eksis dan kahadirannya di dunia memiliki arti.

Saat istri saya sudah tidur, saya merenung dan berkata dalam hati,

“Tugasmu begitu berat, mendukungku dan menemani anak-anak hingga bisa tumbuh seperti sekarang. Tetapi aku merasa penghargaanku kepadamu masih sangat kecil dibandingkan pengorbananmu. Maafkan aku istriku, ternyata aku bukan suami yang sempurna.”
(By: Jamil Azzaini)

Jumat, 16 November 2012

karena separuh aku.....dirimu.....

Dengar laraku.....
kusampaikan pesan Tuhanmu.....


“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (TQS al-A‘râf [7]: 189)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (TQS ar-Rûm [30]: 21).

Dengar laraku.....
kusampaikan pesan Nabimu.....

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251)

Dengar laraku.....
Suara hati ini memanggil dirimu.....
Dengar laraku.....
Duhai istri.....
Bukan ku berharap pamrih atas apa yang pernah ku berikan padamu tapi.....

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika selesai shalat gerhana,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Dengar laraku.....
Suara hati ini memanggil namamu.....
karena separuh aku.....dirimu.....

Dengarlah sabda nabimu.....

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. (HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ahmad 5: 242.

Semoga para Istri bisa mendengar lara hati para suami.....
Sehingga cinta tak terluka.....
Karena Separuh aku.....dirimu.....

(dambacinta.blogspot.com)

Selasa, 26 Juni 2012

duhai istriku yang cantik, manis dan imut-imut...KONSISTENLAH.... :p




Suami: "Ummi.., abi mau nanya nich...Kalau sholat DHUHA 2 rakaat dengan 6 rakaat baikan mana ya?"

Istri: "6 rakaat dong..., LEBIH BANYAK LEBIH BAIK..."

Suami: "Truss..kalau PUASA daud dengan senin-kamis, lebih baik mana ya mi...?"

Istri: "Puasa daud dong...LEBIH BANYAK LEBIH BAIK..."

Suami: "Truss...kalo SEDEKAH 100 ribu dengan 10 ribu?"

Istri: "Abi ini gimana sich...ya jelas lah lebih baik 100 ribu...kan LEBIH BANYAK LEBIH BAIK..."

Suami: "Subhanalloh...nah sekarang begini mi...kan ummi udah bener-bener faham kalo "LEBIH BANYAK LEBIH BAIK..." so...sekarang kan abi masih punya ummi doang kalau kira-kira abi NAMBAH SATU LAGI...gimana?"

Istri: "eeeaaa....eeeaaaa....ciat...ciat....@#%$#*#@$..."

Suami: "Kabooorrrr....."

(dambacinta)

Sabtu, 23 Juni 2012

oh inilah janjiku kepadamu suamiku


aku bersyukur kau di sini kasih
di kalbuku mengiringi
dan padamu ingin ku sampaikan
kau cahaya hati
dulu kupalingkan diri dari cinta
hingga kau hadir membasuh segalanya
oh inilah janjiku padamu

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

untuk: suamiku Kisna Adi

(by: dedeh)

Kamis, 21 Juni 2012

Janji Setia dan Cinta untukmu...duhai suamiku...



Suamiku tercinta…
Engkau adalah anugerah terindah Tuhan bagiku
Engkau adalah orang yang kucintai dan kupilih diantara yang lainnya
Dan aku bahagia menghabiskan sisa hidupku bersamamu

Memang kusadari…
Engkau bukanlah lelaki sempurna yang tak pernah berbuat salah
Namun aku mencintaimu apa adanya dirimu
Seperti engkau juga mencintaiku apa adanya

Dan memang…
Kehidupan bersamamu tidaklah selalu tertawa
Tidak juga selalu tersenyum
Bahkan tak jarang kesedihan dan airmata mewarnainya
Tetapi aku menerima itu semua sebagai bagian yang memang harus kujalani bersamamu.

Di sisimu
Aku merasa dilindungi, aku merasa dicintai dan aku merasa berarti
Rasanya tak mungkin ini terjadi jika bukan kamu di sampingku.
Kau begitu istimewa di mataku, di hatiku, di jiwaku
Karena itulah aku ingin selalu berada di sampingmu
Baik dalam suka duka mu
Dalam sehat dan sakitmu.

Suamiku…
Engkau adalah hal terindah dalam hidupku
Terima kasih telah memilihku dan terima kasih buat anak-anak yang luar biasa ini
Dan aku berjanji selalu setia dan mencintaimu seumur hidupku.
(by: Karunia Puji Hastuti)

Selasa, 19 Juni 2012

Wanita itu Cantik atas dasar?




Ada opini begini:

Nafsu mengatakan: "Wanita itu cantik atas dasar fisiknya."
Akal mengatakan: "Wanita itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya."
Hati mengatakan: "Wanita itu cantik atas dasar akhlaknya."


Pilih yang mana ???

tanggapan saya:

Keindahan fisik kan hilang cantiknya saat umur telah mulai menua...

Ilmu(Syariat) dan Kepintaran(science, dst) akan menghiasi akhlak jika di amalkan dengan benar.

Akhlak akan Proporsional jika di topang dengan Ilmu Syariat.
bersikap tegas/keras pada tempatnya...
bersikap lembut dan halus pada tempatnya...
toleran pada tempatnya...
NO COMPROMISE pada tempatnya...

tapi yang jelas terkait hal ini sebenarnya udah ada sunnahnya dari Rosululloh bahwa:

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Kamis, 09 Februari 2012

Di Balik Setiap Ulama Besar Selalu Ada Isteri yang "SO SWEET"......

Di balik setiap ulama besar, selalu ada isteri yang salehah. Berkata Imam Abdul Wahab bin ' Ali Al-Sya'rani (w. 973H) dalam kitabnya bertajuk "Lataif Al-Minan Wal-Akhlaq fi Wujubit-Tahadduts bi Ni'matillah 'Ala Al-Itlaq" :

Di antara berbagai nikmat anugerah Allah kepadaku adalah  Allah menjadikan keempat istriku (yaitu Zainab, Halimah, Fatimah dan Ummu Hasan binti Syeikh Madyan) istri-istri yang sangat saleh. Ini nikmat yang sangat besar bagiku. Andai ini bukan sebuah nikmat besar, niscaya Allah tidak akan mengingatkan nikmat ini kepada Nabi Zakaria dengan firman-Nya, “Dan Kami salehkan istrinya.” (Qs Al Anbiya [21]:9).

Tanda kesalehan mereka antara lain: mereka tidak pernah walau hanya sekejap duduk dalam keadaan junub, tidak pernah menunda shalat kecuali karena haidh, nifas atau lupa, dan tidak pernah meninggalkan tahajjud.

Yang paling rajin beribadah di antara mereka adalah Fatimah dan Puteri Syeikh Madyan. Fatimah sering kali bertahajjud di belakangku. Aku membaca seperempat Al Qur'an pada rakaat pertama, ia tetap tidak meninggalkanku. Kecuali jika anaknya terbangun atau menangis. Sementara Puteri Syeikh Madyan, ia tidak pernah terlewatkan shalat tahajjud pada sepertiga malam, baik pada musim dingin ataupun musim panas.

Salah satu tanda kesalehan mereka yang lain adalah mereka tidak pernah membebankanku untuk membeli sesuatu kecuali apabila mereka tengah sakit. Dalam sehat, mereka bersamaku bergantung kepada kebaikan Allah Swt.

Tanda kesalehan Fatimah, ia tidak mau menerima pemberian manusia jika aku telah menolaknya. Puteri Khas-Bek pernah memberiku 10 Dinar, tapi aku menolak pemberiannya. Aku berkata, “Aku tidak menerima hadiah dari wanita.”  Ia lalu memberikannya kepada Fatimah, isteriku, namun ia juga menolaknya.

Begitu juga yang terjadi pada isteri Abu Bakar Daudi. Apabila aku menolak hadiahnya, ia memberikan hadiah itu kepada Fatimah. Isteriku menolak dengan berkata, “Kami tidak menerima pemberian wanita. Begitu juga suamiku.” Hal ini sesuatu yang jarang sekali dapat  kau lihat pada istri-istri ulama lainnya.

Istri-istriku selalu menolong diriku dalam perbuatan baik. Mereka mengingatkanku untuk bersedekah dan melakukan kedermawanan lainnya. Jika aku tidak menemukan sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang memerlukan, mereka membantuku dengan pakaian atau perhiasan mereka sendiri. Mereka melakukannya dengan ikhlas, terutama Ummu Abdurahman, Fatimah. Semoga Allah meridhainya dan membangkitkanku bersamanya di akhirat nanti.

~catatan seorang teman~

Jumat, 06 Januari 2012

GOMBALISASI ALA PASUTRI

Umi : "Bi.. jangan terlalu lama duduk di kursi itu, pindah sini dekat umi aja.."

Abi : "Lho.. kenapa mi..?"

Umi : "Takut dikerubungi semut.. soalnya abi manis." [ajiib] :)

Abi : "Mi.. orang tua umi dulu pengrajin bantal ya..?"

Umi : "Hah?! Bukan, kan abi tau pensiunan PNS, kenapa bi?"

Abi : "Koq kalo deket umi rasanya empuuuuk." [gak kuku wkwkwk..]

Umi : "Abi itu seperti sendok."

Abi : "Kenapa?"

Umi : "Karena abi terus mengaduk-aduk perasaan umi.." [yiihaaaa..] :D

Umi : "Abi.. kalo ibu kamu dan aku tenggelam barengan.. siapa yang kamu tolong?"

Abi : "Ya ibuku lah.. emang kamu yang ngelahirin aku?"

Umi : "Ih abiii..."

Abi : "Iyaa.. tapi habis selamatin ibuku, aku akan tenggelam bersama kamu.." [prikitiuwww] :)

Kamis, 05 Januari 2012

Nasyid untuk Kokoro no Tomo-ku, Soulmate-ku, Istriku Tercinta




Di hatimu tersimpan cinta yang suci
Serta mendalam pernikahan dari beda dunia
Meski kau terbiasa hidup tanpa perih
Namun kau ikhlas hidup bersahaja
Namun bahagia

Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku
Buat aku makin cinta
Tetapkan selalu janji awal kita bersatu
Bahagia sampai ke surga

Maafkan aku jika tak bisa sempurna
Karena ku bukan lelaki yang turun dari surga
Ketulusan hatimu anugerah hidupku
Doakan langkah kita tak berpisah
Untuk selamanya

Sampai ke surga....
Munsyid : edCoustic
Judul: Duhai Pendampingku

Rabu, 04 Januari 2012

Setumpuk Kata Manis Buat Istri Tercinta

Duhai Istriku...
Tahukah engkau...
Kata yang paling simple adalah I
Kata yang paling indah adalah LOVE
Dan orang tersayang adalah YOU.



Duhai Istriku...
Lihat bayanganmu sendiri…
Seperti itulah, aku kan selalu ada untukmu… :p


ehm...
Buat malam, bintanglah yg spesial
Buat bunga, kumbanglah yang spesial
But! Buat aku, cuma kamulah yang paling spesial
Duhai Istriku...
Mungkin jika Aku menulis namamu di langit
Awan akan menghapusnya...


jika ku tulis namamu di pantai
mungkin ombak akan menghapusnya...

jadi Biarlah Aku tulis namamu di hatiku
biar nggak akan ada yg bisa
menghapusnya… :p

kurela kau katai aku Gombal...
karena sesungguhnya dengan Gombal itu
aku kan bisa membersih noktah hati
noktah yang mengotori cinta kita...



Sarang heyo...
Wo Ai Ni...
Aishiteru...
Hum Tumhe Pyar Karte hae...
Duhai Istriku...
(miau iseng gombalin istri)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Berhentilah Mencari Yang Sempurna, Karena Yang Kamu Butuh Adalah Dia Yang Tahu Ketidak-Sempurnaanmu, Tapi Tetap Ingin Bersamamu


Sikap qana’ah

Di antara tanda keharmonisan cinta pasutri adalah sikap merasa puas dengan yang ada (qana’ah); merasa puas dengan prasarana hidup yang tersedia. Kelanjutan sikap manja, kebiasan hidup serba ada, boros dan berfoya-foya pada masa kecil atau remaja termasuk salah satu faktor yang memicu pertikaian pasutri. Sikap demikian berlawanan dengan kedewasaan yang menuntut pandangan realistis tentang kehidupan. Hal-hal picisan dan glamor yang digembar-gemborkan media publikasi sejatinya tidak akan menciptakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan sejati memancar dari hati dan jiwa terdalam, bukan bertolak dari aspek-aspek materi yang justru memicu kesenjangan dan konflik pasutri.

Sikap toleransi kedua belah pihak

Sungguh sangat tidak logis jika setiap pihak mengharapkan perilaku ideal permanen dari pasangannya dalam hubungan rumah tangga, karena menurut tabiatnya, manusia kadang salah dan benar. Suami atau istri kadang lupa dan khilaf sehingga kerap mengulangi kesalahan serta kekeliruannya. Dia mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, dan mengulanginya tanpa disadarinya. Jika setiap pihak berkeinginan untuk menghukum, menghakimi, atau membalas dendam untuk setiap kesalahan yang dilakukan pasangannya, maka berarti dia merusak fondasi keharmonisan rumah tangga.

Jika kita mencela segala hal, maka kita tidak akan menemukan sesuatu yang tidak kita cela. Melakukan kesalahan adalah hal lumrah yang hanya membutuhkan pelurusan, pengarah, dan petunjuk, yang dibarengi dengan sikap penyesalan dan keinginan untuk berubah lebih baik. Kesalahan tidak perlu diikuti dengan tekanan, cacian, dan intimidasi, terutama jika kesalahan itu tidak berkaitan dengan norma-norma keislaman. Yakinlah bahwa seseorang tidak akan kehabisan cara yang sesuai untuk mengoreksi kesalahan dan penyimpangan pasangannya. Jalan terbaik dalam hal ini adalah nasihat yang tenang dan membuat pasangannya merasa bahwa hal itu adalah untuk kebaikan diri dan keluarganya.

Closing Statement

"Dalam mencintai pasangan, berhentilah mencari yang sempurna, 
karena yang kamu butuh adalah dia yang tahu ketidak-sempurnaanmu, 
tapi tetap ingin bersamamu. 
bersama saling melengkapi, saling menyempurnakan."

karena kesempurnaan hakiki hanya milik Alloh swt.



Teruslah kita kita belajar, berusaha, berwakal dan disertai sabar dalam membangun rumah tangga. ingatlah bahwa kita sedang berusaha mengokohkan separuh dari agama kita.
 
Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَزَوَّجَ أَحْرَرَ نِصْفَ دِيْنِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِّصْفِ اْلآخَرِ

Barangsiapa kawin (beristeri), maka dia melindungi (menguasai) separuh agamanya, karena itu hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara separuhnya lagi (HR. Hakim)

wallohu a'lam bisshowab.

Pesan-Pesan Untuk Istri Yang Mendambakan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah


Anas berkata, "Para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya."


Ummu Humaid berkata, "Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada 'Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo'a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami"[1]

'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, "Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan parfum yang paling baik adalah air."

Abud Darda' berkata kepada isterinya, "Jika engkau melihat-ku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis."

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah. Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, sekalipun. Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi

Kamis, 11 Agustus 2011

Belajar Romantis dengan ayat Al-Qur'an dan Hadits

Cobalah saat kau berdua dengan Istrimu kau bacakan ayat ini:

"Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. AT-TAGHAABUN:4)

setelah itu katakan padanya: "nah...oleh karena itu aku ingin kamu ngomong jujur kepadaku, jangan kau tutupi rasa dihatimu padaku. katakan sejujurnya padaku bahwa kau sangat mencintaiku...untuk apa kau malu mengungkapkannya padaku, aku kan suamimu. kuharap rasa itu tak hanya Alloh yang tahu tapi aku juga kau beri tahu, karena Alloh telah mengamanahkanmu padaku sejak Ijab Qobul itu diucap.

sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

“Bertakwalah kamu dalam memperlakukan kaum wanita. Karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kehormatan merekan dengan kalimat Allah” (HR. Muslim)

jadi ayo dong ungkapkan perasaan hatimu padaku....bisikkan ditelingaku...bisikkan apa yang ada diqolbumu....duhai Istriku".

~SELAMAT MENCOBA~

(dambacinta.blogspot.com)

Rabu, 10 Agustus 2011

Senandung untuk Suami Tercinta (Kokoro No Tomo)

Kokoro No Tomo

Anata Kara Kurushimi O Ubaeta Sono Toki
Watashi Nimo Ikiteyuku Yuuki Nga Waite Kuru
Anata To Deau Made Wa Kodoku Na Sasurai-Bito
Sono Te No Nukumori O Kanji Sasete

Ai Wa Itsumo Rarabai
Tabi Ni Tsukareta Toki
Tada Kokoro No Tomo To
Watashi O Yonde

Shinjiau Kotoro Sae Dokoka Ni Wasurete
Hito Wa Naze Su'ngita Hi No Shiawase Oikakeru
Shisuka Ni Mabuta Tojite Kokoro No Doa O Hiraki
Watashi O Tsukandara Namida Huite

Ai Wa Itsumo Rarabai
Anata Nga Yowai Toki
Tada Kokoro No Tomo To
Watashi O Yonde

Ai Wa Itsumo Rarabai
Tabi Ni Tsukareta Toki
Tada Kokoro No Tomo To
Watashi O Yonde

Jumat, 13 Mei 2011

AKU MENCINTAI MU SUAMI KU (kisah nyata)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cerita ini adalah kisah nyata… Dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita??? Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita… Aku menjadi perempuan yg paling bahagia… Pernikahan kami sederhana namun meriah… Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu. Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula. Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya. Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu… Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci… Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku…
sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku… Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka… Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur.

Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, “lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. “

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku.

Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagiitu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, “Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, “Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, “Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

Sabtu, 30 April 2011

Untuk Istri Sholihah


Ketika kutatap wajah istriku, betapa aku sangat bersyukur kepada ALLAH, atas anugerah terbesar yang pernah aku terima.

Seorang wanita yang sederhana, namun keridhoan dan keikhlasannya menerima diriku sebagai suaminya, membuat aku tidak berhenti bahkan tidak akan pernah berhenti bersyukur kepada ALLAH, atas kado pernikahan paling indah yang diberikan oleh NYA kepadaku.


Ketika kutatap wajah istriku,....
betapa besar rasa maluku, karena masih banyak kekurangan pada diriku.

Dan sungguh banyak kelebihannya, yang mungkin aku tidak akan mampu menandinginya.
Seorang wanita yang tegar dan tidak banyak menuntut, kecuali tanggung jawabku sebagai suami, ayah dan imam keluarga.
Dia wanita yang ikhlas menerima segala kelemahan dan kekuranganku, sebagai suami.

Ketika kutatap wajah istriku, ....
betapa bangga dan bersemangatnya diriku, karena dukungannya terhadap perjuanganku untuk terus memperbaiki diri.
Aku memang bukan laki-laki yang sempurna dan dia juga bukan wanita yang sempurna, tetapi ALLAH telah memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku dan juga ibu anak-anakku.
Semoga inilih yang terbaik menurut Sang Maha Penentu Takdir.

Ketika kutatap wajah istriku, .....
di saat dia sedang lelap tertidur, tak terasa menetes air mataku,

karena rasa syukur kepada ALLAH atas anugerah terbesar-NYA.

Terlihat wajahnya yang kelelahan, karena harus melayani suami dan anak-anak.
Tapi aku yakin, lewat keikhlasannya, dia akan menjadi wanita yang mampu terus berjuang di jalan ALLAH dengan menjadi istri dan ibu anak-anakku.

Kukecup keningnya, sambil berdoa,

Ya RABB......, jadikanlah dia bidadari syurgaku, sehingga meringankan pertanggungjawaban ku, saat menghadap ENGKAU di Hari Perhitungan kelak. Aamiin.

(duniawanita.org)

Jumat, 29 April 2011

Jurus Penjinak Istri (seri Poligami)


Aku gak takut sama Densus 88, gak takut sama teroris Amerika, gak takut sama thagut-thagut yang berkeliaran di negeri ini. Tapi aku takut sama istri-istriku yang selalu mengawasiku fesbukan.”


“Apa maksudnya ini?” Tanya Salima istriku saat membaca status terbaruku.

“Gak ada maksud kok Sayang….”

“Memangnya aku gak ada kerjaan selain ngawasin Mas FB-an?”

“Ahhhh itu kan hanya status biasaaaaa”

“Kesannya aku kok kayak intelijen gini Mas?” kini matanya melotot dengan sesungging senyuman sinis di bibirnya.

Aku nyengir.

***

Lain Salima, lain Iklima. Ia selalu tersenyum tanpa menunjukkan marahnya meski sebenarnya hatinya terbakar. Ia hanya duduk manis di sampingku setiap aku memegang HP atau computer untuk internetan. Dia akan setia menjadi “malaikat” pendampingku ke mana pun aku berselancar di dunia maya, sambil bertanya:

“Itu Ukhti Mujahidah, siapa Mas?”

“Itu Tuti Sumarti komen di status Mas. Coba Iklima lihat?”

Duh! Menghadapi manis sikapnya itu sungguh aku tak mampu menghindar. Punya dua istri ternyata tak seindah yang kubayangkan. Rasanya semua gerak-gerikku selalu diawasi oleh mereka. Salima yang suka to the point dan jujur dalam mengekspresikan perasaannya, sedangkan Iklima begitu anggun menutupi marah dan cemburunya tapi ditunjukkan dengan senyuman dan sikap polosnya.

Aku pun jadi terpikir bagaimana caranya “menjinakkan” mereka agar jangan selalu curiga padaku. Padahal aku sudah sering mengatakan bahwa aku mencintai mereka apa adanya. Tak pernah sedikitpun ada niat untuk menikah lagi. Kapok. Dua saja repot apalagi tiga dan empat?

Sementara sahabatku Fikri, dia sukses beristri dua. Kehidupannya tampak bahagia. Bahkan mereka bertiga tinggal serumah. Setiap pagi ia suka menggodaku, “Jay, tadi pagi siapa yang mengantarmu di pintu rumah? Kalau aku, dua bidadari cantik selalu setia mencium tanganku sebelum aku berangkat.”

“Kok istri-istrimu akur banget sih? Apa rahasianya? Ada jimatnya ya?”

“Ada. Tapi bukan jimat.” Ucapnya dengan senyuman penuh tanda Tanya.

Aku penasaran. “Bagi-bagi dong….”

“Traktir bakso dulu dong. No free lunch!”

“Alaaaa kapitalis juga kamu!”

Dia terbahak. “Sini kuberitahu….”

***

Aku pulang, dengan semangat menggebu untuk mempraktikkan jurus penjinak istri. Aku bangun di sepertiga malam, meninggalkan istriku tidur sendirian. Kudirikan qiyamullail dan tak lupa membaca al-Qur’an lirih dan perlahan. Hal ini kulakukan setiap malam di setiap giliran istri-istriku. Sehingga setelah berjalan hampir dua bulan, mereka mulai berubah.

“Mas sekarang rajin shalat malam ya?” Tanya Salima. Aku hanya tersenyum. “Mas juga sekarang jarang fesbukan…?” lagi-lagi aku tersenyum. “Terus…Mas juga gak pernah SMS-an dengan Iklima di depanku….?” Ia tersenyum.

“Tapi…aku kangen Mas…” ia tersipu.

Aku tertawa dalam hati. Aku menang!

(catatan FB: Yuni Ummu Fatih)