Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Rasa itu, dulu, kini dan nanti

Ada yang kurang saat dirimu tak di sisiku
Padahal dulu ku tak merasa itu
Kini tanpamu ku rasakan bimbang
Bagai malam tanpa hiasan bintang
Hadirmu berikan ku kehangatan
Bagai matahari yang cahayanya hangatkan

Padahal dulu ku tak merasa itu
Siapa dirimu pun ku tak tau
Wajahmu pun tak pernah ada di ingatanku
Namun kini saat kau tak di sisiku
Bayangmu selalu hadir temaniku
Dalam akalku juga kalbuku

Kusyukuri pertemuanku denganmu
Dalam ijab kabul yang menghalalkanku untukmu
Ku sah sebagai istrimu, duhai suamiku...
Ijinkan aku mengenalmu dan mengingatmu slalu..

Saat kau pergi kutitipkan dirimu kepada Tuhanku
Agar ia selalu menjaga dan melindungimu
Agar ia selalu menolongmu
Dalam  dakwah dan juangmu...

Ada selaksa rindu saat kau pergi meninggalkanku
Ada debar bahagia saat kau kembali kesisiku
Kini kurasakan itu...
Mabuk cinta mungkin begitu...
Ah..tak apa karena itu semua sudah halal bagiku..

Biarlah rasa itu ada kini hingga nanti
Rasa itu ada karenaNya yang meridhoi
Yang menumbuhkan cinta di antara kita, ialah Tuhan
Yang mempertemukan dan memisahkan kita dalam kebaikan
Biarlah rasa itu ada kini hingga nanti
Hingga kita dipertemukan kembali di surgaNya yang abadi

Ya Allah, ya Tuhan kami... berkahilah pernikahan kami
Himpunkanlah kami dalam kebaikan
Karuniakanlah kepada kami
Keturunan yang menyenangkan hati
Pembuka rahmat dan menjadi dambaan umat
Kelak menjadi generasi yang taat syariat
Generasi sholih dan sholihah
Pejuang Syariah dan Khilafah

(Suroso Tansaliman dan Khoirunnisa Syahidah)

Selasa, 26 Juni 2012

Keluarga Pengemban Dakwah


nebeng jadi model... :D
Islam mewajibkan setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, untuk menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Menjadikan akidah Islam sebagai asas rumah tangga berarti mendudukkan akidah sebagai penentu tujuan hidup dalam berumah tangga. Akidah Islam menetapkan bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah menggapai ridha Allah Swt. melalui ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada-Nya, lihat (QS adz-Dzariyat [51]: 56).

Berdasarkan hal ini, maka orang yang berpegang teguh pada akidah Islam akan senantiasa terikat dengan aturan-aturan Islam, termasuk dalam membangun kehidupan rumah tangga; membina dan menjalaninya. Motivasi dalam berkeluarga adalah semata-mata berharap mendapat ridha-Nya. Keberhasilan materi bukan hal yang utama. Setiap perintah Allah akan dilaksanakan sekalipun berat, penuh rintangan dan halangan, serta tidak terbayang keuntungan materinya. Sebaliknya, semua yang dilarang-Nya akan senantiasa dihindari walaupun menarik hati, menyenangkan, dan menjanjikan kesenangan materi. Salah satu perintah Allah Swt. kepada suami dan istri adalah dakwah. Perhatikanlah firman Allah Swt. berikut:

]وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ[

Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar. (QS at-Taubah [9]: 71).

Dalam ayat ini Allah Swt. menyatakan bahwa berdakwah merupakan aktivitas yang menyatu dengan keimanan seseorang, baik laki-laki maupun wanita. Allah Swt. juga berfirman:

]وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3]: 104).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa dakwah bukanlah tanggung jawab seseorang saja, tetapi harus dilakukan secara berjamaah; harus ada sekelompok orang beranggotakan laki-laki maupun perempuan yang mampu menegakkan tujuan dakwah.
Jadi jelas, bahwa dakwah memang wajib dilakukan oleh setiap muslim laki-laki maupun wanita, suami maupun istri. Sekarang, setidaknya separuh jumlah penduduk dunia adalah wanita. Padahal pihak yang layak dan tepat berdakwah di kalangan wanita adalah kaum wanita; ibu dan calon ibu. Apalagi kondisi wanita sekarang telah dijadikan sasaran yang empuk untuk meruntuhkan suatu bangsa.
Dengan demikian, suami dan istri sama-sama meyakini bahwa dakwah merupakan kewajiban mereka. Suami tidak akan menghalang-halangi istrinya berdakwah. Sebab, menghalangi istri berdakwah berarti menghalanginya menunaikan kewajiban. Hal ini sama saja dengan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebaliknya, istri juga akan meridhai suaminya berdakwah. Suatu kali suaminya kendur dalam dakwah, bersegeralah ia menyemangatinya. Istri bangga memiliki suami sebagai pengemban dakwah, suami pun bangga memiliki istri pengemban dakwah. “Keluarga kami adalah keluarga pengemban dakwah,” begitu jiwanya berkata. Inilah kebahagiaan ideologis.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pesan-Pesan Untuk Istri Yang Mendambakan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah


Anas berkata, "Para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya."


Ummu Humaid berkata, "Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada 'Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo'a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami"[1]

'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, "Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan parfum yang paling baik adalah air."

Abud Darda' berkata kepada isterinya, "Jika engkau melihat-ku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis."

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah. Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, sekalipun. Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi