Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

my husband is om miau


sekedar ingin menyegarkan kembali rasa yang mungkin sudah sedikit terkikis oleh karena seringnya kita bertemu dan menjalani rutinitas kehidupan rumah tangga. sehingga tak jarang kita kurang merasakan romantisme hidup seperti saat-saat awal kita menikah.

salah satu cara yang bisa kita coba adalah dengan mengenang momen-momen indah yang pernah dilakukan bersama, seperti dengan membayangkan awal pernikahan, membayangkan kembali bagaimana saat kita khitbah....saat kita awal ijab qabul.....membayangkan saat kita pertama kali mendapat momongan dan bisa pula membayangkan saat kita bercengkrama menikmati rekreasi keluarga.

tak butuh banyak waktu untuk melakukan itu semua. hanya dengan sedikit meluangkan waktu didalam ruang hati untuk bisa membayangkan dan merasakan kenangan indah itu. menjadikannya prolog untuk menyemai kembali romantisme cinta yang mungkin agak pudar oleh rutinitas kesibukan sehari-hari. met mencoba tips saya... (miau ideologis).

Senin, 02 Juli 2012

Siapakah Pemilik Cinta Terbesar Setelah Cinta Alloh dan Rosul-Nya ???

Kunci Jawaban:


Saat Rosulullah SAW sedang thawaf, Beliau SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rosulullah SAW bertanya kepada anak muda itu:

"kenapa pundakmu itu?"

jawab anak muda itu:
"Ya Rosulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur, saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia, saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya, karena itulah pundak saya lecet-lecet" 

Lalu anak muda itu bertanya:
"Ya Rosulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?".

Nabi SAW memeluk anak muda itu dan mengatakan:
"Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku...
ketahuilah...cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu"

dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa sehebat apapun bakti kita kepada orang tua ternyata tidak cukup untuk membalas CINTA dan kebaikan orangtua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang sholeh, dimana do'a anak sholeh kepada orangtuanya dijamin dikabulkan Allah. berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

dikutip dari salah satu Pesan Ibnu Abbas ra (seorang sahabat Rasulullah SAW).

Sabtu, 05 Mei 2012

Doamu dan KeSholihanmu, bukti Cintamu buat Mama



Obrolan ringan dengan mama lewat telpon.

ibuku: "Tahukah kamu nak kenapa mama begitu sayang kepadamu?"


aku   : "hmm...karena aku anak mama kan...."


ibuku: "ada alasan yang lebih kuat dari itu nak..."


aku   : "apa tuh ma...?"


ibuku: "karena boleh jadi kamulah penyelamat mama di akhirat kelak...."


aku   : "amin..."


ibuku: "tetep jadi anak sholihah ya nak....mama rindukan doamu disana nak...."

“Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits shahih riwayat Muslim).





Sabtu, 16 April 2011

Abi, Kapankah Kita Bersantai?


Saya ingin berbagi sebuah cerita ringan yang pernah saya dengar dan akan selalu saya ingat karena maknanya yang begitu dalam. Sebuah kisah dari satu imam besar kaum muslimin, Imam Ahmad bin Hambal. Putra beliau, Abdullah, suatu hari bertanya kepada ayahnya: "Abi, kapankah kita bersantai ?" Ayahnya, adalah ulama besar yang senantiasa menghidupkan Sunnah dan teladan bagi seluruh umat Islam, Ia tatap mata anaknya dan berkata: "…bersamaan dengan langkah pertama kita di surga”.

Subhanalloh…, sebuah jawaban yang indah!

Dalam kehidupan kita ada hari-hari yang amat melelahkan, kita hanya ingin tidur dan bersantai serta melupakan semua pekerjaan.  Ketika itulah saat tepat Anda perlu bertanya pada diri sendiri, “akan saya bawa kemana hidup ini ?” Jika jawabannya adalah kepada Alloh dan hanya untuk Alloh, maka himpun kembali kekuatan dan teruskan pekerjaan Anda, untuk menggapai Surga yang sangat berharga dan harus dicari.

Tetapi saat melihat ke dalam hidup Anda, dan menyadari kelelahan tersebut bukan untuk Alloh, tapi hanya untuk kehidupan dunia.  Maka kelelahan tersebut menjadi berkah, karena itu adalah pengingat agar Anda mengubah arah dan memperbaharui tujuan hidup.

Saya juga suka cara sang anak memulai pertanyaannya: "Abi" – cara manis menyampaikan pada  ayahnya, dan bertanya: "Kapankah kita bersantai?" Jika Anda perhatikan, dia tidak berkata, "kapan aku bersantai ayah ?" Meskipun ia ingin bersantai?, ia tidak egois dan juga menimbang keadaan ayahnya.

Ini juga menunjukkan bahwa ayah dan anak sama-sama sedang bekerja keras. Sekali lagi, ketika fokus Anda adalah Surga, maka hal itu akan tercerminkan dalam keluarga Anda, anak-anak, dan orang-orang di sekitar Anda dan semua orang bersiap menuju tujuan tersebut.

Sebenarnya masalah kita bukanlah rasa lelah itu sendiri, tetapi karena keinginan kita yang terlalu banyak untuk bersantai.

Bagaimana bila kita mulai ubah orientasi hidup ini, bekerja sepenuh jiwa dan raga untuk menggapai ridho Alloh SWT.  Saat terasa lelah, maka santainya kita adalah dengan shalat sunnah tahajud,  atau pergi ke mushola dan membaca Al Qur’an di sana.  Sehingga seluruh waktu kita produktif di jalan Alloh.

Bila anak-anak kita bertanya : “Abi, kapankah kita bersantai?”, Anda bisa tersenyum dan menatap matanya kemudian katakan dengan lembut :”Saat kita ada di Surga sayang…, Insya Allah”. [syabab.com]